Tak Diakui Myanmar, WNA yang Tewas di Kantor Imigrasi Langsung Dimakamkan di Ambon

Antara ยท Rabu, 05 Januari 2022 - 16:48:00 WIT
Tak Diakui Myanmar, WNA yang Tewas di Kantor Imigrasi Langsung Dimakamkan di Ambon
Berkas WNA Myanmar Te Mau Dong yang bunuh diri di tahanan Kantor Imigrasi Ambon, Maluku. (ANTARA/FB Anggoro)

AMBON, iNews.id – Warga Negara Asing asal Myanmar bernama Te Mau Dong, meninggal karena bunuh diri di tahanan imigrasi Ambon pada Rabu (29/12/2021) lalu. Kantor Imigrasi Ambon memutuskan memakamkan jenazah di tempat pemakaman muslim di Ambon.

Hal tersebut dilakukan pihak Imigrasi lantaran warga Myanmar tersebut tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintahnya 

"Pertimbangan untuk dimakamkan di Ambon karena tidak ada kewarganegaraan dan juga karena pertimbangan kemanusiaan," kata Kepala Imigasi Ambon, Armand Surya, di Ambon, Maluku, Rabu (5/1/2022).

Te Mau Dong sebelumnya mengaku berasal dari Myanmar. Dia ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi ruang detensi imigrasi di Kantor Imigrasi Ambon.

Dia sebelumnya meminta dipulangkan ke Myanmar. Namun, Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta tidak kunjung memberikan konfirmasi atas status kewarganegaraannya.

Menurut Surya, Kedubes Myanmar baru membalas surat dari pihak Imigrasi setelah Te bunuh diri. Surat tersebut tidak mengakui bahwa Te adalah warga negara Myanmar.

"Mereka ragu dengan tulisan yang diisi (Te) di formulir, sehingga belum bisa mengakui sebagai warga Myanmar," Surya.

Surya menegaskan, hasil otopsi terhadap jenazah juga sudah diketahui bahwa Te meninggal akibat bunuh diri. Te yang diketahui beragama Islam, langsung segera dimakamkan

"Daripada menunggu lama-lama, tidak mungkin kita biarkan jenazah membusuk begitu saja. Akhirnya saya putuskan dimakamkan secara Islam, karena almarhum kebetulan juga beragama Islam jadi harus dimakamkan 1x24 jam setelah kematiannya," kata Surya.

Sebelumnya, Te menyerahkan diri ke polisi di Ambon pada akhir November 2021. Dia mengaku meminta untuk dipulangkan ke Myanmar. Selama pemeriksaan di Imigrasi, Te yang tidak memegang kewarganegaraan sama sekali itu mengaku lahir di Natale, Myanmar, pada 7 Juli 1966, dan berada di Ambon sejak 2013.

Te juga mengaku kabur dari kapal ikan yang beroperasi di perairan Maluku. Din mengaku kerap disiksa.

Selama di Ambon, Te tinggal sendiri di daerah Laha. Dia diketahui bekerja membantu membersihkan masjid, dan berbaur dengan masyarakat sekitar sehingga cukup bisa berbahasa Indonesia.

Editor : Reza Fajri

Bagikan Artikel: