Kapitan Pattimura Nama Aslinya Siapa? Berikut Biografi Singkat dan Perjuangannya

Kastolani · Rabu, 06 Juli 2022 - 17:56:00 WIT
Kapitan Pattimura Nama Aslinya Siapa? Berikut Biografi Singkat dan Perjuangannya
Pahlawan nasional asal Maluku, Kapitan Pattimura namanya kini ramai diperbincangkan. (Foto: kemdikbud)

JAKARTA, iNews.id – Nama Kapitan Pattimura, salah satu pahlawan nasional asal Maluku kini jadi sorotan setelah disebut penceramah Ustaz Adi Hidayat (UAH). Dalam ceramahnya, UAH menyebut nama asli Kapiten Pattimura adalah Ahmad Lussy. Siapa nama aslinya kapitan Pattimura?

Pemerintah Indonesia menetapkan Kapitan Pattimura sebagai pahlawan nasional pada 6 November 1973 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Presiden Nomor 087/1973.

Biografi Kapitan Pattimura

Dikutip dari laman ditsmp.kemdikbud.go.id, Kapitan Pattimura lahir di Saparua, Maluku pada 8 Juni 1783. Dia merupakan satu di antara pahlawan nasional yang diabadikan dalam pecahan mata uang rupiah.

Pattimura memiliki nama asli Thomas Matulessy. Dia merupakan keturunan bangsawan Raja Sahulau, yang berada di Teluk Seram Selatan. Ayahnya bernama Frans Matulessy, ibunya bernama Fransina Silahoi. 

Dia bergabung dengan militer Inggris saat Maluku masih menjadi koloni negara itu hingga mencapai pangkat sersan mayor. Namanya kemudian dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan Belanda melalui perang Pattimura.

Sejak abad ke 17 dan 18 berlangsung serentetan perlawanan bersenjata melawan Belanda (VOC) dikarenakan terjadi praktik penindasan kolonialisme Belanda dalam bentuk monopoli perdagangan, pelayaran hongi, kerja paksa dan sebagainya. Penindasan tersebut dirasakan dalam semua sisi kehidupan rakyat, baik segi sosial ekonomi, politis dan segi sosial psikologis. 

Selama dua ratus tahun rakyat Maluku mengalami perpecahan dan kemiskinan. Rakyat Maluku memproduksi cengkeh dan pala untuk pasar dunia, namun mayoritas masyarakat tidak ada keuntungan dari sisi ekonomi yang dirasakan. Alih-alih mendapatkan keuntungan, rakyat Maluku justru semakin menderita dengan adanya berbagai kebijakan seperti pajak yang berat berupa penyerahan wajib (Verplichte leverantien) dan contingenten serta blokade ekonomi yang mengisolasi rakyat Maluku dari pedagang-pedagang Indonesia lain. 

Pada fase kedua pendudukan Inggris di Maluku pada tahun 1810 – 1817 harus berakhir pada tanggal 25 Maret 1817 setelah Belanda kembali menguasai wilayah Maluku. Rakyat Maluku menolak tegas kedatangan Belanda dengan membuat “Proklamasi Haria” dan “Keberatan Hatawano”. Proklamasi Haria disusun oleh Pattimura.

Ketika pemerintah Belanda mulai memaksanakan kekuasaannya melalui Gubemur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg,pecahlah perlawanan bersenjata rakyat Maluku. 

Diadakan musyawarah dan konsolidasi kekuatan dimana pada forum-forum tersebut menyetujui Pattimura sebagai kapten besar yang memimpin perjuangan. Pada tanggal 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu negeri Haria, Thomas Matulessy dikukuhkan dalam upacara adat sebagai “Kapitan Besar”.

Setelah dilantik sebagai kapten, Pattimura memilih beberapa orang pembantunya yang juga berjiwa ksatria, yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya dan Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakukan penyerbuan ke benteng Duurstede. 

Berita tentang jatuhnya benteng Duurstede ke tangan pasukan Pattimura dan pemusnahan orang-orang Belanda, menggoncangkan dan membingungkan pemerintah Belanda di kota Ambon. 

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: