Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M Roem Ohoirat. (Foto : Humas Polda Maluku)
Donald Karouw

AMBON, iNews.id - Polda Maluku membantah adanya dugaan pemaksaan oleh anggota polisi yang mengintimidasi RL, tersangka kasus persetubuhan terhadap anak di bawah umur untuk mengakui perbuatannya. RL ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan dua alat bukti dan hasil gelar perkara.

"Terkait dengan laporan istri tersangka ke Mabes Polri itu hak yang bersangkutan. Tetapi untuk tudingan terkait adanya pemaksaan dari tiga anggota SPKT Polres Kepulauan Tanimbar kepada tersangka untuk mengakui perbuatannya, itu tidak benar," ujar Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M Roem Ohoirat, Selasa (22/11/2022).

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tiga anggota Polres Tanimbar yang dituding melakukan pemaksaan terhadap tersangka, mereka mengaku hanya mendampingi korban bersama orang tuanya.

"Menurut Ipda Reimal Paty dan kawan-kawan mengaku mendampingi korban bersama orang tuanya yang membuat laporan Polisi di SPKT terkait kasus persetubuhan yang dialami korban. Tidak ada intimidasi terhadap tersangka," katanya.

Bahkan, tersangka sempat mengajak Ipda Reimal Paty dan rekan-rekannya untuk minum kopi bersama di Villa Bukit Indah Saumlaki. Dia ingin meminta bantuan agar dapat difasilitasi bertemu dengan orang tua korban agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

"Jadi tidak ada intimidasi terhadap tersangka. Kalau pun benar mereka melakukan intimidasi, kami pasti menindak secara tegas. Kami selalu terbuka dan tidak pernah tutup-tutupi apabila anggota melakukan kesalahan. Bapak Kapolda sangat atensi terhadap hal itu," katanya.

RL ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur melalui tahapan penyelidikan dan penyidikan atas laporan yang diterima SPKT Polres Tanimbar dengan nomor : LP/92/V/2022/SPKT/Polres Kepulauan Tanimbar/Polda Maluku tanggal 29 Mei 2022.

Kasus ini ditangani penyidik Unit IV Satuan Reskrim Polres Kepulauan Tanimbar. Tersangka melalui tim kuasa hukum juga melakukan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Saumlaki, namun ditolak Majelis Hakim.

"Putusan Majelis Hakim menolak sepenuhnya permohonan gugatan pemohon dalam hal ini tersangka (RL) dan kuasa hukumnya, sehingga Polres Tanimbar dalam hal ini memenangkan proses praperadilan dimaksud dan kepada tersangka (RL) tetap menjalani proses hukum yang dipersangkakan terhadap dirinya," kata Roem.

Tersangka dijerat menggunakan Pasal 76D Jo Pasal 81 ayat (1) dan atau ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2022 tentang Perlindungan Anak.


Editor : Donald Karouw

BERITA TERKAIT