Kabid Humas Polda Malut Kombes Polisi Michael Irwan Thamsil didampingi Kabag Wassidik AKBP Hengky Setyawan dan Kasubdit l Kompol Moh saat merilis kasus mafia tanah di Kabupaten Halmahera Tengah. (ANTARA)
Antara

TERNATE, iNews.id - Polisi mengungkap kasus mafia tanah di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Modus operandi yakni pemalsuan surat-surat akta otentik dengan menetapkan empat tersangka, salah satunya mantan pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Kabid Humas Polda Maluku Utara Kombes Pol Michael Irwan Thamsil mengatakan, pengungkapan kasus ini dilakukan anggota Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Malut. Identitas keempat tersangka masing-masing berinisial WL mantan pegawai BPN Halmahera Tengah, YI selaku Kepala Desa Nusliko, serta dua orang lainnya UB dan DI.

"Kasus dugaan pemalsuan akta tanah itu terjadi dalam kurun waktu Agustus 2018 sampai Februari 2019," ujar Michael didampingi Kabag Wassidik Ditreskrimum Polda Malut AKBP Hengky Setyawan dan Kasubdit l Kombes Pol Moh Arinta Fauzi, Kamis (22/9/2022).

Modusnya dengan cara memasukkan keterangan palsu dalam suatu akta otentik hingga timbulnya sertifikat hak milik baru dalam bidang tanah yang telah dilekati dengan bukti kepemilikan sah berupa SHM Nomor 03 Tahun 1969 atas nama Hadijah Assagaf. Kemudian SHM Nomor 04 Tahun 1969 atas nama Fariz Assagaf melalui program strategis nasional Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) tahun 2018 untuk bidang tanah yang berada di Desa Nusliko.

"Akibat dari perbuatan para pelaku, korban Idrus Assagaf mengalami kerugian kehilangan hak penguasaan dan hak materi," katanya.

Menurutnya, keempat tersangka diduga menjual tanah per kapling dengan harga Rp15 juta hingga Rp20 juta yang luas keseluruhannya 32 hektare dan dipecah menjadi 271 sertifikat.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 264 ayat (1) ke-1 sub pasal 263 jo pasal 55 ayat (1) dan (2) KHUP dengan ancaman hukum penjara paling lama 8 tahun.

"Ancaman hukuman maksimal 8 tahun penjara. Perkara tersebut telah dinyatakan lengkap (P-21) oleh jaksa penuntut umum Kejaksaan Tinggi Maluku Utara dan akan dilakukan penyerahan tersangka dan barang bukti (tahap dua)," katanya.


Editor : Donald Karouw

BERITA TERKAIT