Pelaku Pencabulan di Ambon Dituntut 7 Tahun Penjara, Terdakwa Menyesal

Antara ยท Sabtu, 20 Juni 2020 - 12:02 WIB
Pelaku Pencabulan di Ambon Dituntut 7 Tahun Penjara, Terdakwa Menyesal
Ilustrasi pencabulan anak. (Foto: Istimewa)

AMBON, iNews.id - Seorang pelaku pencabulan di Ambon, Maluku dituntut hukuman tujuh tahun penjara. Pelaku, Ronaldo Leleury (45) melanggar Pasal 82 Ayat (1) UU RI nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 164 Ayat (1) KUHPidana.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Ambon, Ingrid Louhenapessy meminta majelis hakim agar memeriksa dan mengadili perkara ini. Menurutnya, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah.

"Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dan dijatuhi vonis selama tujuh tahun penjara," katanya, Jumat (19/6/2020).

Tuntutan jaksa disampaikan dalam persidangan secara daring dipimpin Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Ambon, Hamzah Kailul. Dia didampingi Lucky Rombot Kalalo dan Jimmy Wally selaku hakim anggota.

Selain tujuh tahun penjaram jaksa juga menuntut terdakwa untuk membayar denda Rp60 juta subsider tiga bulan kurungan.

Hal yang memberatkan terdakwa karena perbuatannya terhadap saksi korban telah diketahui oleh pihak sekolah. Sementara terdakwa juga mengetahui korban masih berusia 17 tahun dan bersekolah ketika melakukan aksi cabulnya.

Sedangkan yang meringankan yakni terdakwa tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan, bersikap sopan, dan memiliki tanggungjawab terhadap keluarga.

Menurut JPU, perbuatan terdakwa terhadap korban awalnya diketahui oleh saksi Frans Lekahena yang merupakan guru korban. Saksi curiga karena dua kali memergoki terdakwa bersama korban di tepi jalan raya pada malam hari.

Dia lantas bertanya pada korban. Saksi lalu menceritakan perbuatan terdakwa kepada kakek korban.

Aksi terdakwa ini sudah dilakukan tiga kali selama bulan Oktober 2019 lalu di tepi jalan menuju Desa Titawai (Pulau Nusalaut) Kabupaten Maluku Tengah.

"Terdakwa memanjakan korban dengan memberikan uang untuk membayar uang komite sekolah, makan bakso, uang fotocopy tugas sekolah, dan memberikan kesempatan korban mengendarai sepeda motor sambil membonceng terdakwa," katanya.

Penasihat hukum terdakwa, Alfred Tutupary, memberikan pembelaan secara lisan dan meminta keringanan hukuman dari majelis hakim. Menurutnya, terdakwa menyesali perbuatannya.

Majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan. Agenda sidang selanjutnya mendengarkan pembacaan putusan hakim.


Editor : Umaya Khusniah