Makanan Datang Terlambat, Pasien Covid-19 yang Dikarantina di BPSDM Maluku Sering Menahan Lapar

Antara ยท Rabu, 27 Mei 2020 - 12:01 WIB
Makanan Datang Terlambat, Pasien Covid-19 yang Dikarantina di BPSDM Maluku Sering Menahan Lapar
Ilustrasi karantina. (Foto: Istimewa)

AMBON, iNews.id - Pasien positif Covid-19 yang dikarantina di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Desa Rumah Tiga, Kecamatan Teluk, Ambon, Provinsi Maluku mengeluhkan pelayanan makan dan minum yang tidak tepat waktu. Bahkan di tempat tersebut tidak disediakan air minum yang cukup. 

Salah satu pasien, IR (54) mengatakan sering menahan lapar akibat jadwal makan yang tidak teratur. "Makan selalu terlambat, tidak ada air minum yang disediakan di sini. Kami hanya mendapatkan satu gelas setiap kali makan," kata IR.

Menurutnya, selama 10 hari berada di lokasi karantina, makan siang selalu disediakan antara jam 14.00 WIT - 15.00 WIT. Sementara makan malam diantar di atas pukul 19.00 WIT.

“Selain itu, air minum hanya dijatah satu gelas setiap kali makan,” katanya.

Di bulan Ramadan, terkadang makanan untuk berbuka puasa baru diantarkan saat masuk waktu salat Magrib. Akibatnya, IR dan teman sekamarnya hanya berbuka puasa dengan berdoa.

Dia berharap, makanan bisa disediakan tepat waktu, agar dirinya dan pasien lain juga bisa minum obat secara teratur. Mereka ingin segera dari corona.

"Tadi teman tetangga kamar datang minta makan, dia belum lama dirawat di rumah sakit dan tidak bisa menahan lapar. Sementara tapi kami juga tidak punya makanan," katanya.

Selain makan dan minum yang tidak teratur, IR juga mengeluhkan tidak tersedianya air hangat yang bisa digunakan untuk mandi. Saat ini suhu udara di Ambon cenderung lebih dingin dari biasanya karena sedang musim penghujan.

Sebagai orang tua yang berusia di atas 50 tahun, IR merasa kesulitan jika harus terus-terusan mandi air dingin. Dia jadi mudah terserang pilek dan demam.

"Saya dan teman-teman yang sudah umuran rasanya sulit sekali. Jangankan untuk mandi, kami minta air hangat untuk minum saja, katanya minta sama keluarga untuk membawakannya," kata IR.

IR merupakan orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 yang dikarantina di BPSDM Provinsi Maluku sejak 17 Mei 2019. Sebelumnya, dia bersentuhan langsung dengan pasien positif Covid-19 saat menjalankan tugasnya.

Pasien tersebut menjalani rapid test pada 8 Mei 2020 dam hasilnya reaktif. Dia lalu menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) atau swab test pada 12 Mei dan hasilnya positif Covid-19.

IR juga dua kali mendapatkan swab test pada 20 dan 21 Mei 2020. Hasilnya, seperti yang dirilis pada 25 Mei 2020, masih menunjukkan positif virus corona.

Selain IR, hal yang sama juga dikeluhkan oleh LL (23) yang merupakan pasien Covid-19 yang sementara dirawat di BPSDM. Dia sudah mulai merasakan sakit lambung akibat sering terlambat makan, padahal sebelumnya tidak pernah mengalami gejala tersebut.

"Mungkin karena sering makan terlambat dan kurang minum. Kalau terus-terusan begini, saat masuk karantina dengan kondisi tubuh sehat, lama-lama bisa mati dan dibilang karena corona," katanya.

LL dikarantina di BPSDM pada 17 Mei 2020. Sebelumnya dia mendapatkan perawatan antibiotik di RST Tk II Prof dr JA Latumeten selama lebih dari sepekan. Tapi hasil tes PCR-nya pada 20 dan 21 Mei 2020 masih menunjukan tanda positif corona.


Editor : Umaya Khusniah