Asosiasi Televisi Swasta Desak Mendikbud Kaji Ulang Konten Asing Netflix bagi Pendidikan

Zen Teguh ยท Rabu, 01 Juli 2020 - 16:27 WIB
Asosiasi Televisi Swasta Desak Mendikbud Kaji Ulang Konten Asing Netflix bagi Pendidikan
Pengurus ATVSI saat rapat dengar pendapat dengan DPR belum lama ini. ATVSI mendesak Kemdikbud mengkaji ulang kerja sama dengan konten asing. (Foto: iNews.id/Felldy Utama)

JAKARTA, iNews.id - Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memilih konten asing untuk materi dokumenter bagi pendidikan yang ditayangkan melalui LPP TVRI membuat Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) angkat suara. ATVSI menyurati Mendikbud Nadiem Makarim dan mendesak agar keputusan itu dikaji ulang.

Dalam suratnya, ATVSI menyampaikan keprihatinan mereka atas rencana tersebut. ATVSI diketahui beranggotakan 10 lembaga penyiaran swasta (LPS) televisi bersiaran secara nasional, yakni RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV, ANTV, Metro TV, Trans TV, Trans 7, TVOne dan GTV. Ke-10 TV ini telah menjangkau 100 persen dari seluruh wilayah Indonesia.

Ketua Umum ATVSI Syafril Nasution dan Sekjen ATVSI Gilang Iskandar dalam surat kepada Mendikbud Nadiem Makarim tertanggal 20 Juni 2020 itu mengatakan, ada empat hal yang membuat ATVSI prihatin atas keputusan Kemdikbud merangkul konten asing.

Pertama, pada prinsipnya ATVSI mendukung sepenuhnya penyelenggaraan program Kemendikbud "Belajar dari Rumah" yang ditayangkan melalui LPP TVRI, khususnya di masa pandemi Covid-19. Program ini dalam rangka membantu masyarakat Indonesia yang memiliki keterbatasan atas akses internet untuk dapat menikmati tayangan berkualitas yang mendidik dan menghibur.

Namun, dalam penyelenggaraan program tersebut, Kemdikbud ternyata memutuskan untuk menayangkan program dokumenter yang berasal dari asing seperti: Out Planet, Street Food Asia, Tidying Up with Marie Kondo, Spelling the Dream, Chasing Coral dan Night on Earth.

"Kami sangat yakin bahwa Indonesia memiliki sumber daya dan kemampuan untuk menghasilkan berbagai tayangan berkualitas yang mendidik dan menghibur dan sekaligus memuat kearifan lokal dan mencerminkan budaya Indonesia," tulis surat ATVSI yang diterima wartawan, Rabu (29/6/2020), di Jakarta.

Sesuai dengan program Presiden Joko Widodo "Bangga Buatan Indonesia", seyogianya menjadi prioritas bagi Kemdikbud untuk mengupayakan agar industri kreatif dalam negeri mendapat dukungan untuk berkembang daripada sekedar menggunakan lisensi konten yang diproduksi di luar negeri.

Berbagai konten edukasi produksi anak bangsa seperti Jendela, Kiko, Si Entong, Si Bolang, Jelajah, Jejak Petualang, Mata Angin, Si Kecil Tangguh, Laptop si Unyil, Jejak Anak Negeri, Indonesiaku dan lainnya yang dimiliki oleh LPS anggota ATVSI, terbukti mampu menjadi tayangan yang mendidik dan diminati anak-anak Indonesia selama ini karena mencerminkan budaya dan norma ke Indonesiaan.

"Dalam konteks ini, apakah anak Indonesia perlu belajar untuk merapikan rumahnya mengikuti cara seorang Marie Kondo di Jepang dan apakah Spelling Bahasa Inggris merupakan hal yang terpenting yang harus diutamakan pada saat ini?" bunyi surat ATVSI tersebut.

Kedua, meskipun konten yang disiarkan oleh LPP TVRI merupakan konten dokumenter yang diharapkan cukup aman untuk ditonton semua usia, namun penayangan konten asing yang disediakan oleh Netflix di LPP TVRI merupakan suatu endorsement dan promosi gratis atas Netflix di aset Indonesia, sehingga anak-anak Indonesia pada umumnya akan lebih mengenal layanan Netflix dan mencoba menonton layanan yang disediakan Netflix.


Editor : Maria Christina